bila aku harus kehilangan semua
harga diri dan senyuman tulus iklas
menjadi kaku pada sebuah jasad yang hidup
aku pun biarkan segala memori luka
menjadi api dendam yang tak bisa terpadam
mengapa aku dikhianati lagi
sedang ku tak mengharapkan hadirmu
dalam bentuk yang engkau lakonkan
aku pun menerima takdir
bila telah berusaha merawat diri
menjadi insan yang berperibadi
dan tidak pernah memohon simpati
tapi mengapa harus terjadi
bila sedang luka ku balut
kau tusukan kembali belatimu
hingga luka itu menjadi parah
rintihan ku tak lagi bersuara
dan sebagai seorang yang berwibawa
kau pun tertawa dengan bersahaja.
No comments:
Post a Comment